Breaking

LightBlog

Tuesday, May 23, 2017

Korupsi di Sekolah Semakin Canggih

Otonomi pendidikan tidak sepenuhnya berdampak baik. Dari sisi anggaran, celah dan model korupsi di sekolah semakin canggih. Beberapa di antaranya bahkan menyalahi nilai luhur pendidikan yang seharusnya diajarkan.

Hal ini terungkap dari penelitian Indonesia Corruption Watch (ICW) sepanjang tahun 2013 hingga 2017. Menurut Ade Irawan, Kepala Divisi Monitoring Pelayanan Publik ICW, masalahnya terletak pada hubungan antara sekolah dengan dinas pendidikan. Otonomi sekolah yang diwujudkan melalui program Manajemen Berbasis Sekolah tidak benar-benar membuat sekolah otonom. “Dinas masih bisa mengontrol mereka,” katanya kepada hukumonline di Jakarta, Rabu (9/2).

Sekolah mudah dikontrol karena dinas masih berwenang menentukan proyek yang dapat dilaksanakan sekolah. Juga, mengatur penempatan (mutasi) kepala sekolah. Ade mengatakan, kewenangan ini dijadikan alat bagi dinas untuk meminta sejumlah ‘upeti’ dari sekolah. “Sekolah harus setor ke dinas, dan pembagian upeti di hari besar untuk para guru ” ujarnya.

Ade mengungkapkan, ada dua jenis setoran yang harus diberikan sekolah pada dinas. Pertama, disebut investment corruption. “Artinya, kepala sekolah ‘berinvestasi’ ke dinas. Tanpa diminta pun dia rutin memberikan uang,” jelasnya.

Menurut Ade, hal ini dilakukan agar posisi kepala sekolah aman dari mutasi ke tempat yang tidak diinginkan. Selain itu, agar proyek dinas diprioritaskan ke sekolahnya.

Jenis kedua disebut extortion. Dalam hal ini dinas yang secara aktif meminta dana dari kepala sekolah. “Misalnya dana Bantuan Operasional Sekolah sudah turun, sekitar 10-20 persen pasti diminta untuk dinas. Bisa dilakukan oleh kepala dinas maupun pegawai dinas. Ini kita sebut pemerasan,” tegasnya.

Kondisi ini mendorong sekolah untuk ‘kreatif’ mencari sumber pendanaan. Selain membebankan biaya kepada murid, banyak cara lain dilakukan sekolah. Misalnya, ICW menemukan manipulasi kuitansi di sejumlah sekolah di Aceh. “Kuitansi belanja ada, tapi barangnya tidak ada,” jelasnya.

Lebih parah, sejumlah dana yang didapat sekolah untuk keperluan perlengkapan proses belajar tidak dipakai sama sekali. Ketika ada pemeriksaan, sekolah justru menyewa barang-barang tersebut. “Cuma disewa selama pemeriksaan agar terlihat ada barangnya,” kata dia. 

Sayangnya, kata Ade, modus-modus korupsi di sekolah seperti itu seringkali tidak dianggap bermasalah. Sebab, jumlahnya kecil dan tidak melibatkan orang-orang yang dianggap penting. “Dianggap hanya korupsi kecil-kecilan dan terjadi pembiaran. Kalaupun ada kepala sekolah yang dikenai sanksi, hanya mutasi atau pengembalian uang korupsi,” katanya.

Permasalahan ini diamini Wakil Menteri Pendidikan Nasional, “Penyelenggaraan pendidikan di Indonesia memang belum sepenuhnya baik,” ujarnya.

Otonomi daerah yang menyertakan otonomi pendidikan memang berpotensi memunculkan penguasa baru di daerah. Apalagi, sistem komando pusat ala orde baru masih menjiwai sekolah negeri. “Budaya menyenangkan atasan masih kuat,” katanya.

Karena alasan itulah program manajemen berbasis sekolah diluncurkan. Pogram ini menekankan pentingnya peranan sekolah yang otonom, dan peranan orang tua serta masyarakat Sekolah diberikan kepercayaan untuk mengatur dan mengurus kebutuhan sendiri. “Program ini jadi jalan untuk memperbaiki profesionalisme penyelenggaraan sekolah,” lanjutnya.

Kemudian, program manajemen berbasis sekolah diperkuat dengan pembentukan komite sekolah. Komite ini terdiri dari perwakilan orang tua dan guru. “Kalau ini dijalankan dengan baik, tentu pengelolaan sekolah akan bagus,” ujarnya.

Namun, Ade menepis pembentukan komite sekolah sebagai solusi perbaikan. Berdasarkan penelitian ICW, komite sekolah justru seringkali dibajak oleh kepala sekolah untuk kepentingannya.

Hal ini karena mekanisme pembentukan komite belum jelas. Tidak ada aturan yang menegaskan mengenai pihak yang dapat menjadi anggota komite, cara memilihnya, dan bentuk pertanggungjawaban komite. “Akibatnya, komite dan wakil kepala sekolah diisi oleh orang-orang yang dekat dengan kepsek sehingga fungsinya tidak jalan,” sergah dia.

DEMI KESELAMATAN KITA
Post a Comment
Adbox